Kamis, 27 September 2012

PENGARUH EM-4 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT


PENGARUH EM-4 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT

DISUSUN OLEH KELOMPOK III
1.      ERWIN DWIANTO (0802406016)
2.      SUCIPTO (0802406012)
3.      M. AKRAM (0802406008)
4.      YUSMAN (0802406009)
5.      YULIANTO (08024060
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
TAHUN 2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tomat (Lycopersicon esculentum Mill) merupakan komoditas pertanian yang ada hampir di seluruh dunia. Rasanya yang unik, yakni perpaduan rasa manis dan asam menjadikan tomat salah satu buah yang banyak digemari masyarakat. Hal tersebut dikarenakan tomat memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi juga memiliki kandungan dan komposisi gizi yang tergolong lengkap (Redaksi AgroMedia, 2007).
Produksi tomat di Indonesia pada tahun 2004 sebesar 4,65 % (626,872 ton) dengan luas lahan 52,719 ha, dan hasil rata-rata tomat sebesar 11,89 ton ha-1 (Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2005). Sedangkan pada tahun 2005 produksi tomat meningkat menjadi 647,020 ton ha-1 dengan produktivitas sebesar 12,64 ton ha-1 (Deptan, 2005dikutip Redaksi AgroMedia, 2007). Hasil tersebut masih rendah dibanding dengan potensi tanaman tomat menggunakan mampu mencapai hasil 25 sampai 30 ton ha-1 (East West Seed Indonesia, PT., 2007). Dengan demikian upaya peningkatan hasil tanaman tomat per satuan luas perlu terus ditingkatkan.
Dalam mengejar sasaran peningkatan hasil tanaman tomat, petani dan pelaku pertanian seringkali menggunakan bahan kimia secara berlebihan. Penggunaan pupuk kimia dan pestisida terbukti menimbulkan pencemaran baik pada tanah maupun produk pertanian, yang akhirnya dapat menurunkan kualitas lahan dan produksi pertanian serta mengganggu penggunaan bahan kimia dan memperbesar penggunaan bahan bahan organik atau pupuk untuk meningkatkan produksi dan kualitas produk pertanian (Anonim, 2000).
Penggunaan mikroorganisme efektif (EM) merupakan salah satu teknologi yang dapat digunakan dalam usaha pengelolaan pertanian yang mampu mengurangi pengaruh negatif pada lingkungan (Anonim, 1997). EM terdiri atas kultur campuran mikroorganisme bermanfaat dan hidup secara alami serta dapat diterapkan sebagai inokulum untuk meningkatkan keragaman mikroorganisme tanah dan tanaman (Higa dan Parr, 1997). Meningkatnya mikroorganisme tanah bermanfaat bagi pertumbuhan dan hasil tanaman. Mikroorganisme tanah meningkatkan transformasi kimia selama proses dekomposisi, merombak polisakarida menjadi karbon dan air serta merangsang pelapukan sisa-sisa tanaman menjadi artikel yang lebih kecil (Solihah, 1995). Aplikasi EM-4 ada penanaman tomat memperlihatkan beberapa pengharuh antara lain perubahan fisik, biologis dan kimia tanah, menekan perkembangan populasi Trichoderma sp serta Penicillium sp, sebagai penekan perkembangan Fusarium sp., memperdalam lapisan olah tanah, meningkatkan agregasi tanah serta memacu pertumbuhan dan produksi tomat (Higa dan Wididanan, 1991bdalam Wididana, 1993). Makalah ini menginformasi hasil percobaan untuk mengetahui konsentrasi EM-4 terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tomat.
Interval
konsentrasi
1.2 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang dapat dikemukakan dari uraian pada latar belakang adalah : Apakah terjadi interaksi antara konsentrasi dan interval waktu pemberian EM- 4 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat.
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari interaksi antara konsentrasi dan waktu pemberian EM-4 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Penelitian ini diharapkan berguna dalam memberikan sumbangan yang positif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang agronomi. Selain itu agar hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan landasan dan bahan pertimbangan bagi petani atau instansi pemerintah yang terkait dalam usaha meningkatkan hasil tanaman tomat.
1.4 Kerangka Pemikiran
Tanah merupakan sistem yang hidup karena dapat mengolah pupuk anorganik maupun organik yang diberikan menjadi unsur hara dalam bentuk yang tersedia maupun tidak tersedia bagi tanaman (Adiningsih, 1992). Salah satu pemegang kunci proses tersebut adalah keberadaan mikroba tanah yang mampu mentransformasi hara sedemikian rupa sehingga unsur hara tetap berada pada sistem tanah-tanaman dan dalam keadaan berimbang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menurut Verma dan Battacharya (1992), di dalam usaha mengoptimalkan hasil tanaman, proses hayati di dalam tanah merupakan komponen penting yang harus dipertimbangkan bagi terciptanya kelancaran suplai hara. Kemampuan mikroba sebagai pentransformasi unsur hara, penghasil zat perangsang tumbuh dan pengendali penyakit tanaman dapat dipakai untuk meningkatkan suplai hara. EM-4 merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. EM4 diaplikasikan sebagai inokulan pada bahan organik untuk meningkatkan keragaman dan populasi mikroorganisme di dalam tanah maupun tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan kesehatan, pertumbuhan, kualitas dan kuantitas produksi tanaman. EM-4 mengandung bakteri 90% genus Lactobacillus dan genusAzotobacter serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik, Streptomycetes sp., ragi dan Actinomycetes. Cara kerja EM-4 di dalam tanah adalah dengan menyeimbangkan populasi mikroorganisme yang menguntungkan dan menekan populasi mikroorganisme yang merugikan. Pemberian EM-4 dengan dosis 8 L/ha per musim tanam, bila diaplikasikan dengan cara cara disemprotkan pada permukaan tanaman atau disiram pada permukaan tanah (Wididana, 1995).
Pengaruh pemberian EM-4 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat akan berbeda-beda pada taraf konsentrasi dan interval waktu pemberian yang berbeda- beda. Konsentrasi menunjukan tingkat kepekatan bahan aktif yang berbeda dalam cairan semprot, pemberian EM-4 pada konsentrasi yang tepat disertai dengan interval waktu pemberian yang tepat pula, maka pertumbuhan dan hasil tanaman akan meningkat.
1.5 Hipotesis
Dari kerangka pemikiran dapat diajukan hipotesis yaitu : Terjadi interaksi antara konsentrasi dan interval waktu pemberian EM-4 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Tanaman Tomat
Klasifikasi tanaman tomat menurut Linaeusdikutip Bernardinus dan Wahyu Wiryanta (2002) sebagai berikut :
Kingdom           : Plantae
Divisio               : Spermatophyta
Sub division      : Angiospermae Classis
Klas                   : Dicotyledonae
Ordo                  : Solanales
Familia              : Solanaceae
Genus                : Lycopersicon
Spesies              : Lycopersicon esculentum Mill.
Tanaman tomat memiliki akar tunggang yang bisa tumbuh menembus tanah, akar cabang, serta akar serabut (yang tumbuh kesamping yang bisa menyebar kesegala arah). Kemampuannya menembus lapisan tanahnya terbatas, yakni pada kedalaman 30 cm sampai 70 cm. sesuai dengan sifat perakarannya, tomat bisa tumbuh dengan baik di tanah yang gembur dan mengikat air (Redaksi AgroMedia, 2007).
Batang tanaman tomat berbentuk bulat, bercabang mulai dari ketiak daun yang berada dekat dengan tanah. Tinggi tanaman tomat mencapai dua sampai tiga meter. Sewaktu masih muda batangnya berbentuk bulat dan teksturnya lunak, tetapi setelah tua batangnya berubah menjadi bersudut dan bertekstur keras berkayu. Ciri khas batang tomat adalah tumbuhnya bulu-bulu halus di seluruh permukaannya (Bernardinus dan Wahyu Wiryanta, 2002).
Daun tomat berbentuk oval dengan panjang 20 sampai 30 cm. Tepi daun bergerigi dan membentuk celah-celah yang menyirip. Di antara daun-daun yang bersirip besar terdapat sirip kecil dan ada pula yang bersirip besar lagi (bipinnatus). Umumnya, daun tomat tumbuh di dekat ujung dahan atau cabang, memiliki warna hijau, dan berbulu (Redaksi AgroMedia, 2007)
Bunga tanaman tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah lima sampai sepuluh bunga per dompolan atau tergantung dari varietasnya. Kedudukan rangkaian bunga beragam, ada yang terletak di antara buku, pada ruas, ujung batang, atau ujung cabang. Kelopak bunga berjumlah enam, berujung runcing, dan berwarna hijau. Mahkota bunga berjumlah enam, bagian tangkalnya membentuk tabung pendek berwarna kuning. Bunga tomat adalah bunga sempurna, memiliki benang sari, bakal buah, kepala putik, dan tangkai putik. Benang sari terletak mengelilingi putik, bertangkai pendek dan berwarna kuning cerah. Bunga tomat dapat melakukan penyerbukan sendiri karena tipe bunganya berumah satu. Meskipun demikian tidak menutup terjadi penyerbukan silang dengan bantuan serangga seperti lebah (Etti Purwati dan Khairunisa, 2007).
Buah tomat berbentuk bulat, bulat lonjong, bulat pipih atau oval. Buah yang masih muda berwarna hijau muda (berbulu dan berasa getir) sampai hijau tua. Sementara itu, buah yang sudah tua berwarna cerah atau gelap, merah kekuning- kuningan, atau merah kehitaman. Diameter buah tomat antara 2 sampai 15 cm, tergantung varietasnya (Sastrahidayat, 1992).
Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, dan diselimuti daging buah. Warna biji ada yang putih, putih kekuningan, ada juga yang kecoklatan. Panjangnya 3 sampai 5 mm dan lebar 2 sampai 4 mm. Jumlah biji setiap buahnya bervariasi tergantung pada varietas dan lingkungan. Biji inilah yang umumnya digunakan untuk perbanyakan tanaman (Etti Purwati dan Khairunisa, 2007).
Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik dataran tinggi maupun dataran rendah (tergantung varietasnya) dengan waktu tanam yang baik sebelum musim hujan berakhir (awal musim kemarau) namun sebagian besar sentra penanaman tomat berada di daerah dengan kisaran ketinggian 1.000-1.250 m dpl. Tanaman tomat yang sesuai untuk ditanam di dataran tinggi misalnya varietas Berlian, varietas Mutiara, varietas Kada. Sedangkan varietas yang sesuai di dataran rendah misalnya varietas Intan, varietas Ratna, varietas Berlian, varietas LV, varietas CLN. Selain itu, ada varietas tomat yang cocok di tanam di dataran rendah maupun dataran tinggi misalnya varietas GH 2, varietas GH 4, varietas Berlian, varietas Mutiara, varietas Marta (Bernardinus dan Wahyu Wiryanta, 2002).
Pada dasarnya bertanam tomat bisa dilakukan di segala jenis tanah. tanaman semusim ini biasa tumbuh di tanah Andosol, Regosol, Latosol, Ultisol, dan Grumosol. Jika tanah kurang subur atau sifatnya kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman tomat bisa dimanipulasi lewat pemupukan, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik. Kondisi tanah yang paling cocok untuk bertanam tomat adalah lempung berpasir yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Jika tanah terlalu liat, strukturnya perlu diperbaiki lewat pemberian pupuk kandang atau pupuk kompos dengan takaran 20 sampai 30 ton ha-1. Curah hujan optimal untuk tanaman tomat adalah 100-200 mm per bulan. Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk perkecambahan benih tomat adalah 250 sampai 300C, sedangkan untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 240 sampai 280 C. Kelembaban relatif yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 80 %. Sewaktu musim hujan, kelembaban akan meningkat dan resiko terserang bakteri dan cendawan cenderung tinggi (Bernardinus dan Wahyu Wiryanta, 2002).
Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air, akan tetapi tanaman tomat lebih menghendaki tanah yang gembur, kaya humus dan subur. Akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen, oleh karena itu drainase harus baik dan tidak menggenang. Kemasaman tanah (pH) berkisar 5,5 sampai 7,0 sangat cocok untuk budidaya tomat (Sastrahidayat, 1992).
2.2 Peranan Effective Mikroorganisme (EM-4) bagi Tanaman
Konsep dan teknologi EM-4 dalam bidang pertanian telah dilakukan secara mendalam oleh Teruo Higa di Universitas Ryukyus, Okinawa, Jepang. Dalam skala luas EM-4 telah diterapkan oleh petani organik di Jepang, diteliti ke efektifannya di 15 negara termasuk Indonesia (Wididana dan Higa, 1996). EM-4 dapat memacu pertumbuhan tanaman dengan cara :
1. Melarutkan kandungan unsur hara dari batuan induk yang kelarutannya rendah,
misalnya batuan fosfat.
2. Mereaksikan logam-logam berat dari senyawa-senyawa untuk menghambat
penyerapan logam berat tersebut oleh pertukaran tanaman.
3. Menyediakan molekul-molekul organik sederhana agar dapat diserap langsung
oleh tanaman, misalnya asam amino.
4. Menjaga tanaman dari serangan hama dan penyakit
5. Memacu pertumbuhan tanaman dengan cara mengeluarkan zat pengatur tumbuh.
6. Memperbaiki sifat kimia, biologi dan fisik tanah.
7. Memperbaiki dekompsisi bahan organik, residu tanaman serta memperbaiki daur
ulang unsur hara.
Jika seluruh pengaruh yang menguntungkan tersebut bekerja secara sinergis, maka tanaman dapat menghasilkan secara optimal, walaupun tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida (Wididana, 1995). Di samping diterapkan pada tanah dan tanaman EM-4 juga dapat diterapkan dalam pengolahan limbah, memperbaiki tanah dasar tambak dan untuk mempercepat pertumbuhan ikan. Wididana dan Higa (1996) cara kerja EM-4 adalah sebagai berikut :
1) Menekan pertumbuhan gulma
2) Mempercepat dekomposisi limbah dan sampah organik.
3) Meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanaman.
4) Meningkatkan aktivitas mikroorganisme yang menguntungan yaitu mikoriza dan
senyawa organik pada tanaman
5) Memfiksasi nitrogen
6) Mengurangi kebutuhan pupuk kimia.
Dengan cara tersebut, EM-4 dapat mengatasi pertumbuhan mikroorganisme patogen yang selalu menjadi masalah pada budidaya tanaman sejenis secara terus menerus. Selain itu EM-4 ini merubah lingkungan jika diaplikasikan dalam dosis yang tinggi secara kontinyu sebab EM-4 bukan merupakan mikroorganisme asing dan secara alami sudah terdapat di dalam tanah. Populasi EM-4 di alam akan diseimbangkan sesuai dengan lingkungan bahan organik, air, suhu, O2 dan lain-lain yang tersedia di dalam tanah (Wididana dan Higa, 1996).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa EM-4 dapat memfermentasikan bahan organik yang terdapat di dalam tanah dengan melepaskan hasil fermentasi berupa alkohol, gula, vitamin, asam amino dan senyawa organik lainnya. Fermentasi bahan organik tidak melepaskan panas dan gas yang berbau busuk, sehingga serangga tidak tertarik untuk bertelur atau melepaskan telurnya di dalam tanah, sehingga tingkat serangan hama menjadi menurun, begitu pula pada EM-4 dapat menekan/menurunkan populasi nematoda parasi tanaman di dalam tanah (Wididana, 1995).
Menurut Wididana dan Higa (1996) jenis mikroorganisme yang terkandung dalam EM-4 sebagian besar terkandung genus Lactobacillus (bakteri asam laktat) serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik, streptomycaes dan ragi. EM-4 meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman serta menekan aktivitas serangan hama dan patogen.
Penelitian tentang EM-4 telah dilakukan pada beberapa jenis tanaman dan kondisi agroekologis yang berbeda-beda. Hasilnya menunjukkan bahwa EM-4 memberikan respon yang positif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman serta dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Percobaan
Penelitian ini merupakan percobaan lapangan yang dilaksanakan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Cokroaminoto Palopo. Waktu percobaan dilaksanakan mulai bulan Juli 2010 sampai dengan bulan Oktober 2010.
3.2. Bahan dan Alat Percobaan
Bahan yang digunakan benih tomat, EM-4, pupuk Urea, SP-36, KCl, fungisida Dithane M-45 80 WP dan air.. Alat-alat yang digunakan adalah ayakan, kotak persemaian, polybag, dan ajir.
3.3. Rancangan Percobaan
3.3.1 Rancangan Lingkungan
Rancangan yang digunakan pada percobaan ini adalah Rancangan Acak
Lengkap yang terdiri dari dua faktor dan 10 ulangan.
3.3.2 Rancangan Perlakuan
Faktor pertama adalah konsentrasi EM-4 (A) yang terdiri atas 3 taraf, yaitu :
A2 = 2 ml L-1 air
A5 = 5 ml L-1 air
A8 = 8 ml L-1 air
Faktor kedua adalah interval waktu pemberian EM-4 (B) yang terdiri atas 2 taraf,
yaitu:
B1 = Setiap minggu sejak tanam sampai waktu panen pertama
B2 = Setiap dua minggu sejak tanam sampai waktu panen pertama
3.3.3 Rancangan Respon
Pengamatan dilakukan terhadap variable tinggi tanaman, diameter batang, umur saat berbunga, jumlah tandan bunga tanaman-1, jumlah buah tanaman-1, diameter buah, panjang buah dan total berat buah.
3.3.4 Rancangan Analisis
Analisis hasil pengamatan diuji menggunakan metode statistik berdasarkan
model linier RAK pola faktorial sebagai berikut : Xijk = µ +αi +βj + (αβ )ij + eijk
Keterangan:
Xijk       : Nilai pengamatan pada satuan percobaan ke-k yang memperoleh kombinasi  perlakuan ij (taraf ke-I dari faktor A dan taraf ke-j dari faktor B)
μ            : Rata-rata umum
αi
         : Pengaruh aditif taraf ke-i dari faktor A
βj   :Pengaruh aditif taraf ke-j dari faktor B
(αβ )ij
  : Interaksi taraf ke-i faktor A dan taraf ke-j faktor B
eijk         : Pengaruh galat dari satuan percobaan ke-k yang memperoleh
kombinasi perlakuan ij
 Tabel 1. daftar sidik ragam pola faktorial
Sumber ragam
DB
JK
KT
f hit
F 0.05
Perlakuan
ab-1
JKP
JKP/DBg
KTp/KTg
2.40
A
a-1
JK(A)
JKA/DBG
KTg/KTg
3.29
B
b-1
JK(B)
JKp/DBp
KTp/KTg
3.29
A X B
(a-1)(b-1)
JK(AB)
JKgp/DBgp
KTgp/KTg
2.59
Galat
ab(r-1)
JKG
KTg
- 
- 
Total
rab-1
JKT
- 
- 
- 

Pelaksanaan percobaan
Persiapan media tanam dilakukan dengan mengambil tanah pada kedalaman 20 cm kemudian diberishkan dari sisa tanaman dan diayak dengan ayakan yang berukuran 0,4 x 0,4 cm. Campuran tanah dan pupuk kandang yang digunakan sebagai media tanam disterilisasi dengan menggunakan soil sterilizer untuk mencegah layu fusarium.
Pembenihan dilakukan dalam kotak persemaian yang terbuat dari kayu yang berukuran 40 cm x 30 cm x 20 cm (p x l x t). Setelah benih mempunyai 4 sampai 6 daun, kemudian dipindahkan ke polybag yang berisi campuran 5 kg tanah dan 0,5 kg pupuk kandang. Pupuk Urea, SP-36 dan KCl masing-masing diberikan tiga kali sebanyak 3 g/polibag pada saat tanaman berumur 7, 28 dan 49 hari setelah tanam (hst).
Larutan EM-4 disiramkan ke media tanam setiap minggu dan setiap dua minggu sesuai dengan perlakuan. Pemberian EM-4 dimulai sejak tanaman dipindahkan dari kotak persemaian ke polybag sampai waktu panen pertama (7 hst sampai dengan 56 hst).
Pemberian ajir dilakukan sebagai penegak tanaman. Penyiraman dilakukan setiap hari untuk menjaga kelembaban tanah dan ketersediaan air bagi tanaman. Pengendalian gulma dilakukan secara manual dengan mencabut gulma yang tumbuh. Pengendalian penyakit dilakukan secara kimia dengan menggunakan Dithane M-45 sesuai dosis anjuran. Setelah 60% kulit buah berwarna merah, buah dipanen dengan selang waktu 2 atau 3 hari sampai buah tidak layak panen. Setelah panen berakhir, tanaman dibongkar untuk keperluan pengamatan. 
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1994. Hasil-hasil pengujian Effective Microorganisms-4 (EM-4) pada tanaman bawang putih, bawang merah, tomat dan semangka Tahun 1993/1994. Direktorat Bina Produksi Hortikultura dan Indonesia Kyusei Nature Farming Societies (IKNFS), Jakarta.
Anonim. 1997. Pedoman penggunaan EM-4 bagi negara-negara Asia Pacific Nature Agriculture Network (ADNAN). Seminar Nasional Pertanian Organik. Yayasan Bumi Lestari, Jakarta.
Anonim. 1999. Produksi sayuran dan buah-buahan di Propinsi Bengkulu. Badan Pusat Statistik Propinsi Bengkulu, Bengkulu.
Anonim. 2000. Pengkajian efesiensi pemupukan melalui pupuk alternatif. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi, Bogor.
Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Penerbit UIP, Jakarta.
Higa, T. dan J.F. Parr. 1997. Effective Microorganism (EM-4) untuk Pertanian dan Lingkungan yang Berkelanjutan. Indonesian Kyusei Nature Farming Societes, Jakarta.
Isro, I. 1994. Peranan mikroorganisme tanah dalam meningkatkan ketersediaan hara. Indonesian Kyusei Nature Farming Societes, Jakarta.
Marlina, M. 2000. Analisa pertumbuhan selada (Lactuca sativa L) secara hidroponik pada berbagai komposisi media pasir dan serbuk gergaji. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu (tidak dipublikasikan).
Mc Collum, J.P, J.M. Swiader, G.W, Ware. 1990. Producing Vegetable Crops 4th edition. Interstate Publisher University of illinois, USA.
Nyakpa, Y., A.M.Lubis Mamat, A.P.,Ghaffar, A.,Ali, M.,Go, B.H. dan Nurhajati,H.1988. Keseburan Tanah. Penerbit Universitas Lampung, Lampung.
Sholihah, A. 1995. Manipulasi laju mineralisasi N dengan masukan bahan organik berbeda kualitas. Makalah Seminar Problematika Program Studi Pengelolaan Tanah dan Air Universitas Brawijaya, Malang.
Somamihardja,T.W. 1995. Progress report on the application of EM technology in Indonesia. illin.139-143. Proceedings of the fourth confrence on Effective Microorganism (EM-4) Held at Kyusei Nature Farming Centre. Sarabuni, Thailand.
Sriwidodo, J. 2001. Pengaruh jenis pupuk kandang dan konsentrasi EM-4 terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman cabai merah (Capsicum annum) Varietas Hot Beauty. Hlm 48-54. Hasil-hasil Penelitian Teknologi Effective Microorganism (EM-4) di Indonesia Jilid 1. Institut Pengembangan Sumberdaya Alam, Jakarta.
Suzanna, E. 1993. Pengaruh cara pembibitan dan umur bibit terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu, Bengkulu. (tidak dipublikasikan).
Wididana, G.N. 1993. Peranan effective Microorganism-4 dalam Meningkatkan Kesuburan dan Produktivitas Tanah. Indonesian Kyusei Nature Farming.
Wismarawati.T. 2001. Pengaruh pemberian EM4 dan macam pupuk kandang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat (Lycopersicon esculentum Mill). Hasil- hasil Penelitian Teknologi Effective Microorganisms (EM) di Indonesia Jilid 1. Institut Pengembangan Sumberdaya Alam, Jakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar