Selasa, 08 Februari 2011

Toraja, “Kota” Orang Mati yang Hidup

Kebanyakan orang berpendapat keunikan budaya Toraja adalah upacara
kematian. Pendapat ini kurang tepat karena upacara kematian dengan
tingkat elaborasi yang tinggi ada di mana-mana, seperti upacara
pemakaman Pak Harto atau upacara pemakaman di Bali dan Sumbawa.
Keunikan budaya Toraja sebenarnya terletak pada kepercayaan dan

praktik-praktik budaya yang memperlakukan orang mati hidup atau tidak
mati. Dan ini hanya ada dan terjadi di Toraja.
Orang Toraja memiliki satu sistem kepercayaan yang disebut Alukta.
Agama ini sering disebut Aluk Todolo untuk menggambarkan bahwa agama
ini asli ciptaan leluhur orang Toraja. Disadari atau tidak, satu
pandangan yang masih dianut dan dipraktikkan oleh hampir seluruh
masyarakat Toraja ialah pandangan tentang kehidupan yang berputar (cycle).
Manusia berasal dari langit, turun ke Bumi—kehidupan di Bumi—dan
kembali lagi ke langit setelah melalui transformasi. Pandangan ini
tampak dalam semua aspek budaya Toraja. Misalnya, dalam lagu-lagu duka
(badong) narasi bergerak dalam tema ini: manusia lahir di langit,
turun ke Bumi dan kembali lagi ke langit (ossoran). Rumah tongkonan
dan lumbung alang didirikan mengikuti gerakan dari selatan ke utara
sampai titik zenit tertinggi atau sebaliknya, dari utara ke selatan
(puya), kembali ke langit tertinggi.
�Orang sakit�
Kalau Anda berjalan-jalan di Toraja saat ini, Anda akan melihat
bendera putih di depan jalan dekat rumah seseorang dan hal ini dapat
ditemukan dari kampung ke kampung. Bendera putih menandakan ada orang
sakit dalam rumah yang disebut to masaki ulunna, ’orang yang kepalanya
sakit’ atau to makula; ’orang yang panas’.
Namun, yang dimaksud dengan orang sakit di sini ialah orang mati yang
hidup. Keadaan ini mudah ditemukan karena sekarang ini orang sakit
yang sedang menunggu upacara ada puluhan, bahkan mungkin ratusan
jumlahnya.
Ungkapan-ungkapan ini dan bendera-bendera putih menunjuk pada orang
yang secara biologis sudah mati tapi dari su- dut budaya Toraja orang
sakit. Ungkapan-ungkapan metaforis tersebut bersifat ambigu. Ia
mengandung makna ketakutan akan kekuatan alam gaib, teta- pi pada saat
yang sama juga berisi keinginan untuk menguasainya.
Sebagai orang sakit ia dimasukkan ke dalam peti sementara dan
ditidurkan di kamar tidur ruang selatan rumah tongkonan yang disebut
sumbung. Dia ditidurkan dengan kepala mengarah ke matahari terbenam
dan kaki ke matahari terbit, layaknya seperti cara orang hidup tidur.
Karena dianggap masih berada di alam kehidupan, tiga kali sehari ia
mendapatkan makanan dan minuman (pagi, siang, dan malam). Yang membawa
makanan selalu berkata, �bangunlah nenek, makanan dan minumanmu sudah
ada�. Pada siang hari dan terutama pada malam hari, anggota keluarga
dan para tetangga berkumpul di dalam rumah bercerita sambil bermain
domino dan minum kopi agar tahan begadang. Kalau sudah lelah, mereka
tidur di sekitar �si sakit�.
Sambil menunggu pelaksanaan upacara, si sakit dibaringkan di atas
rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun;
bergantung pada kesediaan keluarga untuk melaksanakan upacara. Ada
yang sudah disimpan selama berbulan-bulan, ada yang bertahun-tahun,
misalnya enam tahun, bahkan ada yang pernah lebih dari dua puluh tahun.
Dalam situasi demikian, orang luar sering susah membedakan mana rumah
dan mana kuburan. Untuk orang Toraja, kuburan asli disebut banua tang
merambu (rumah tanpa asap) karena di dalamnya tidak ada dapur. Dapur
adalah simbol kehidupan.
Alasan menyimpan si sakit berlama-lama, seperti beberapa komentar dari
keluarga, adalah agar anggota-anggota keluarga dapat melakukan upacara
dengan tepat dan baik sesuai dengan strata sosialnya. Para anggota
keluarga harus punya waktu mencari uang untuk beli babi dan kerbau
yang akan dikorbankan nanti kalau upacara sudah dimulai. Alasan kedua,
agar semua anggota keluarga dapat hadir karena—seperti yang
diketahui—banyak anggota keluarga yang merantau.
�Orang tidur�
Tibalah waktu upacara. Upacara untuk orang dengan strata sosial tinggi
dilakukan sebanyak dua kali. Upacara pertama (aluk pia) berlangsung
selama lima malam, sedang yang kedua (aluk dio rante) selama dua
malam; walaupun yang kedua ini biasa juga berlangsung berhari-hari.
Antara upacara pertama dan kedua terkadang ada tenggang waktu yang
lamanya bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Sebagai rite of passage, ritus utama tetap bertumpu pada konsep ka’tu
(’putus’) yang dimainkan pada berbagai simbol, yaitu mematikan dan
menghidupkan, yang berakhir dengan memutuskan. Sejumlah upacara
dilakukan. Mulai dari upacara mematikan, ditandai dengan pemindahan
mayat ke ruang tengah tongkonan dengan kepala menghadap selatan dan
kaki ke utara (allo leko’na), hingga upacara ma’parempe’ yang intinya
menguburkan mayat di bagian selatan ruang tengah (sali).
Si sakit lalu disimpan di atas rumah menunggu upacara kedua (aluk dio
rante). Bisa dalam hitungan bulan atau tahun, bergantung kesiapan
keluarga. Pada titik ini selain gelaran orang sakit, ia juga
digambarkan sebagai to mamma’ lan kulambu manikna (orang tidur dalam
kelambu kalung emasnya). Ia tetap diperlakukan sebagai orang hidup
dengan memberinya makan tiga kali sehari.
Ketika upacara kedua dilaksanakan, ritus pertama yang dilakukan adalah
ma’tundan, yaitu membangunkan dia dari tidurnya. Lalu posisinya diubah
ke posisi mati (to tungara). Sejumlah ritus dilakukan disertai dengan
korban hewan babi dan kerbau.
Berbagai upacara yang mengikutinya, hingga upacara ma’pasonglo’, yaitu
melakukan prosesi ke tempat upacara terakhir (rante), adalah
tahap-tahap rite of passage yang memutus hubungan (ka’tu) dengan rumah
tongkonan dan lumbung. Dia secara simbolis diputuskan dari rumpun
keluarga (sang rapu, sang tongkonan).
Tetapi, ia diputuskan dari kampung halamannya bukan untuk pergi
selamanya. Ia diharapkan menjadi nenek moyang yang aktif membangun
hubungan kembali dengan orang hidup dan terutama diharapkan akan
kembali melipatgandakan apa yang sudah dikorbankan untuknya (sule
ma’bolloan barra’).
Orang mati yang hidup
Dari uraian di atas tampaklah bahwa keunikan budaya Toraja terletak
pada pandangan yang berkaitan dengan human agency, keagenan manusia
(Giddens, 1990, Central Problems in Social Theory) dalam menangani
kekuatan-kekuatan alam gaib. Tetapi, uniknya, mereka tidak tunduk pada
alam gaib khususnya yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan supernatural.
Ada kekaguman, ketercengangan, bahkan ketakutan di hadapannya, namun
ada upaya mengontrolnya dan bersahabat dengannya. Manusia dapat
mengontrol alam gaib (arwah). Dan, inilah yang membedakannya dengan
agama besar lainnya, dengan manusia selalu tunduk di depan Sang Ilahi.
Ini pulalah yang menjelaskan mengapa orang mati diperlakukan sebagai
yang hidup. Orang mati tidak pernah mati, tetapi selalu hidup. Bukan
hanya sebagai suatu pandangan hidup, melainkan sesuatu yang masih
dipraktikkan sekarang. Mereka sangat akrab dengan si sakit, bahkan
tidur bersamanya. Di Toraja utara, kalau pasangan hidup mati sang
istri atau sang suami tidur bersama si mati di ranjang yang sama dalam
satu kelambu. Mirip kisah Romeo dan Juliet.
Jangan kaget! Toraja memang ibarat sebuah kota yang dihuni oleh orang
mati yang hidup!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar